Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Puisi’ Category

If You Were Mine…

Sebuah pengandaian yang lebih dalam dari sekedar kalimat romantis. Bilakah waktu memperbolehkanku untuk mengungkap sebuah rahasia terdalam di hatiku, aku akan mengucap kalau aku begitu merindukanmu. Bagiku, tak perlu sebuah alasan untuk tetap mempertahankan perasaan ini padamu. Jikalau saja Tuhan mau membagi sedikit kesempatanNya sekali lagi padaku untuk dapat melihatmu kembali, ingin rasanya kukatakan padamu, “If you were mine, I promise you will never leave you”. Puisi ini untukmu, kalaulah tangis ini dapat menyampaikan pesan batinku yang terdalam…
if you were mine

note : BLOGGER CONTEST “IF YOU WERE MINE” a novel by Clara Cancerian

Read Full Post »

Aku Ingin Sendiri

Apabila diizinkan….
Aku ingin sehari saja pergi
Menyendiri dalam sepi
Meresapi belaian angin di musim dingin
Atau melangkah pelan di atas awan

Aku ingin sendiri….

Aku ingin menenangkan hati di saat sunyi
Agar tak ada gundah lagi yang menyelimuti diri
Ingin sejenak pergi dari rutinitas

Karena aku butuh semua itu…..

Aku ingin bercerita tentang citaku
Tentang mimpiku yang tersimpan rapi
Dalam laci batinku
Tentang harapku yang mengangkasa raya
Dan tenta rasa yang membahana dalam jiwa

Aku ingin semua itu…
Tapi……

Tak kutemui saat yang sempat
Tak kutemui tempat yang tepat
Aku ingin berbagi rasa dan cerita
Tapi tak ada ia yang kurasa tepat sebagai pendengar

Aku sedih…
Aku resah…
Aku gundah…
Aku hanya bisa bercerita dengan hatiku sendiri

Aku ingin kau dengar
Aku ingin kau beri saran
Aku ingin kau beri pendapat
Aku ingin itu, hanya itu…

Sekali lagi kukatakan, aku sedih
Aku sangat sedih…
Kapankah sekiranya ceritaku dapat didengar?
Masihkah kau mau mendengar ceritaku?
Aku menunggu…
Selalu menunggu…
Dan akan tetap menunggu…

17:09, Sabtu 10/09/2011
nz

Read Full Post »

Rintik hujan sore ini,
Kembali mengingatkan aku padamu
Pada senyummu…
Pada sapamu…
Pada candamu…

Ingatkah kau dengan hujan pagi itu?
Saat aku dan kau bertemu pada satu masa
Dimana mata kita saling beradu pandang
Dengan segala rasa yang kita miliki

Kini hujan kembali menderas
Seiring dengan rintiknya…
Hatikupun ikut menderas…

Sejak saat itu,
Kau tak hadir lagi dalam hidupku
Aku kehilangan senyummu…
Kehilangan sapamu…
Kehilangan candamu…

Hujan boleh saja mereda dalam senja-Nya
Tapi rinduku takkan pernah berhenti
Pada dirimu yang selalu kunanti

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Read Full Post »

taman rinduku

Ditaman ini, senja kali ini begitu lain kurasa
Bukan karena mentarinya yang tak lagi bersinar cerah
Bukan juga karena bunganya yang tak lagi merekah
Tapi karena tak kutemui lagi dirimu disana

Jangankan sosokmu,
Bahkan bayangmupun sudah tak pernah lagi kujumpai
Disetiap bilangan hari yang kulalui
Ditaman ini, aku tak pernah lelah menunggumu
Menunggu sapamu…
Menunggu senyummu…
Menunggu hadirmu…

Meski pagi berganti senja
Dan siangpun berganti dengan malam
Namun rasaku padamu tak pernah berubah
Rasa rindu yang teramat dalam
Pada kelembutan hati dan jiwamu

Dibangku taman ini aku masih menanti
Sambil duduk manis dan mengenakan gaun terindah
Dengan membawa semangkuk penuh harapan
Agar kau berkenan datang menghampiriku

Hari berganti hari
Namun kau tak juga datang menghampiri
Hujan dan badai datang silih berganti
Namun kau sudah tak pernah lagi kujumpai

Bangku taman itu kini sudah dipenuhi daun-daun kering
Daun-daun yang jatuh berguguran dari tangkai pohonnya
Menandakan, entah sudah berapa lama aku menantimu disini

Pohon itu boleh saja menggugurkan daun-daunnya
Tapi tidak dengan hatiku…..
Hati, yang akan selalu menumbuhkan rasa cinta padamu

Aku masih terpaku di taman ini,
Taman yang dulu selalu penuh dengan candamu
Taman tempat kita bersenda gurau

Taman itu kini sepi…
Tak ada lagi dirimu…
Tak ada lagi sapamu…
Tak ada lagi bayangmu…
Hanya ada aku dan hatiku…
Yang menantimu dalam kerinduan

Read Full Post »

Puisi Cahaya Bulan

by. Film GIE

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah Mandala Wangi
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata kudengar degap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

“Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu

bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi

sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati”

Read Full Post »

Labirin Rasa

Labirin Rasa
Biarlah kubisikkan sebuah asa padamu
Meski pelan dan hampir tak terdengar
Kuharap kau tetap mau mendengar
Tak lama meski hanya sebentar

Namun,
ah . . . .
Bahkan sedetikpun
Kau tak mau memberiku ruang
Untuk berbagi

Kau meninggalkanku disini
Terjebak dalam labirin rasa
Yang tak kumengerti

Sejenak kau menoleh dan tersenyum
Lalu setelah itu kau kembali melemparku
Dengan seonggok duri yang tak jelas darimana datangnya

Aku masih termangu dengan sikapmu
Aku masih tersudut dalam diamku
Sesaat kau buatku bahagia
Namun setelahnya kau buat hatiku hampa
Sunyi. . .
Sepi. . .
Sendiri. . .

Entah apa ini namanya
Lagi-lagi aku masih harus terperangkap
Dalam labirin rasa yang penuh tanya
Kemana harus kulangkahkan kaki?
Dilema. . .
Bimbang. . .
Cemas. . .
Tak mengerti. . .

Kuhanya bisa tertegun dengan semuanya
Kusingkap perjalanan waktu kebelakang
Terus kebelakang melewati detik, hari, pekan, bulan
Sampai berbilang tahun
Adakah “Dia” memiliki maksud atas pertemuan kita?
Atau ini hanya sebuah kebetulan belaka?

Ah. . . .
Namun sungguh tak bijak rasanya
Bila menyesali semua garis takdir-Nya
Biarlah ini kupahami sendiri
Walau tak jua kumengerti sampai saat ini

Kau begitu misteri
Menatapmu membuatku perih
Mendengarmu membuatku pedih
Bahkan memikirkanmu
Semakin membuatku tak mengerti

Darimana datangnya rasa ini?
Rasa yang sudah lama bertahta dalam jiwa
Yang tak jua pergi meski tak pernah kuusahakan
Apa ini?
Mengapa begini?
Bagaimana bisa terjadi?

Dan Kau. . .
Mungkin hanya kaulah jawaban
Atas segala gundah dan resah yang tertahan
Namun sampai saat ini
Kaupun masih tetap diam tak berucap
Kau hanya berikan harapan semu
Yang terkadang kuartikan lain darimu

Ah. . .
Lelah. . .
Letih. . .
Bosan. . .
Jemu. . .
Enek. . .
Mual. . .

Kumasih berkutat dalam labirin rasa
Entah mencarimu
Atau mencari jalan keluar?
Akupun masih terus berjalan tanpa tujuan

Sementara Kau,
Masih terdiam dalam kemisterianmu

——————————————————-

Coba dengar lagu ini:
Suaranya unik pisan..

Read Full Post »