A Iing sudah menemukan calon pendamping hidupnya, dan sebentar lagi ia pasti akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Semenjak kau pergi meninggalkan kami, aku dan A Iing sering kali bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan Rizky, tapi kini…rasanya aku sudah harus mulai berusaha sendiri untuk memberikan kehidupan yang layak buat Rizky. Kini aku harus benar-benar bekerja keras sendiri untuk memenuhi segala kebutuhannya. Aku sedih tan. Aku sangat sedih.
Kemarin, Ulfa memintaku untuk rapat di sekolahnya, sementara Tiara juga memintaku untuk mengikuti halal bihalal di sekolahnya, tapi akhirnya aku memilih untuk ke sekolah Ulfa, karena kurasa lebih penting. Tahukah kau tan? Semua ini tak mudah untuk kujalani. Sendiri tan, sendiri.
Di tengah ujian dan cobaan yang mendera keluarga kita, kini aku merasa sendiri, meskipun Allah selalu ada di sampingku tan. Sepulang rapat, Ulfa dijemput Mugi. Awalnya Ulfa menyuruhku untuk pulang bareng Mugi, namun aku menolaknya. Akhirnya aku membiarkan dia pulang bersama Rizky dan Mugi, sementara aku pulang dengan berjalan kaki bersama Tiara. Sekali lagi, ini tak mudah aku jalani tan.
Rasanya sulit untuk kujelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Tahukah kau apa yang Mama katakan padaku tentang hal ini tan? Dia meledekku karena hanya aku yang belum memiliki pendamping. Ah entahlah tan. Aku hanya bisa menyerahkan urusan itu pada Allah. Saat ini aku hanya ingin memikirkan Rizky. Memikirkan kehidupannya yang layak, keceriaannya, kesehatannya, dan masa depannya.
Tan, di saat “mereka” tengah asyik menikmati masa-masa muda mereka bersama orang terkasih, aku malah justru bergelut dengan kelima anakmu. Bergelut dengan sebuah kenyataan yang tak mudah untuk kuterima. Namun aku tak pernah menyesali itu tan, pun juga tak pernah menyesali kehendak Allah akan takdirNya mengambilmu dari kami.
Hidup sebagai seorang pekerja, pengajar, mahasiswa, dan seorang bunda untuk Rizky, jelas sebuah hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Apalagi aku juga masih punya sebuah impian tan, untuk menjadi seorang penulis. Maukah kau mendoakan aku tan? Tolong pintakan pada Allah ya tan agar Ia berkenan mengabulkan doaku yang satu ini.
Saat ini nenek sedang sakit tan. Kemarin sore baru saja jatuh dari motor, jadi jalannya agak sedikit susah. Aku selalu berdoa pada Allah agar Ia selalu berkenan pula memberikan kesehatan pada nenek. Bahkan bersedia menyediakan “sepetak” saja ruang di surga sana untuk pengabdian nenek terhadap keluarga dan anak-anak tante.
Tante……
Aku benar-benar merindukanmu. Waktu sudah enam bulan berlalu sejak kau pergi namun rasanya hal itu tetap tak bisa membuatku lupa akan dirimu dan semua kenangan kita. Bahkan sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Air mata selalu saja membasahi wajahku tan kala batinku teringat padamu. Terlebih lagi saat aku harus menyaksikan kelima anakmu tumbuh tanpa adanya kasih sayang darimu. Andai saja Tuhan mau berbaik hati untuk mempertemukan aku denganmu meskipun hanya lewat mimpi. Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku saat ini padamu. Hanya padamu. Seperti dulu, saat kau masih ada di sini bersamaku.
Kini sejak kau pergi, aku tak tahu pada siapa lagi aku harus menceritakan perasaanku ini. Aku hanya bisa diam dan memendamnya dalam hati. Paling hanya dengan handphone ataupun laptop yang menjadi tempat curahan hatiku. Aku benar-benar merasa sendiri.
Sendiri memikirkan masa depanku dan Rizky, sendiri berusaha memenuhi kehidupan kami, sendiri mencari kebahagiaan kami, sendiri merajut asa kami dalam segenggam ikhtiar yang kupunya.
Aku hanya ingin bahagia tan. Dan kebahagiaanku saat ini adalah melihat Rizky tumbuh dalam kasih sayang yang utuh yang bisa kuberikan padanya. Itulah janjiku padamu tan. Aku tak akan pernah membiarkannya merasa kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Tan, bahagialah kau di sana. Titip salam rindu dan sayangku untuk kakek dan dede zaenab yah? Aku sangat merindukan kalian. Sangaaaattt…..rindu.
* * *
Senin, 26-09-2011
Apa kabar Tan? hari ini aku mau cerita kalo semalem ada peristiwa hebat yang keluarga kita alami. tapi tak perlulah aku bahas di sini, karna kuyakin kaupun sudah mengetahuinya. lanjut ke tadi pagi tan. tadi pagi alhamdulillah masih dengan rutinitas yg sama dengan pagi2 sebelumnya. setelah sholat subuh, aku langsung berkutat ke dapur untuk masak air dan cuci piring. kalo ada tambahan, paling masuk2in air ke botol untuk ditaro di kulkas. bada itu, langsung mandiin azmi dan nganter dia sekolah. nah, sebelumnya kan Intan dah diurusin nenek untuk berangkat sekolah. tapi pas lala pulang nganter ami, eh si intan malah pulang dan gak sekolah. alesannya sih karena Fathya gak masuk sekolah juga, jadi dia memilih untuk gak sekolah jg.
udah dua kali tan dia kayak gitu, gak tau deh musti gimana lagi ngebilanginnya. capek, manalagi kan lala juga udah kesiangan berangkat ke kantor, jadi tadi selepas masak lala langsung mandi dan blum sempet mandiin Rizky. mudah2an sih di mandiin ama nenek.
Tan, doain ya supaya lala dan keluarga yang laen bisa kuat menghadapi kenyataan hidup ini. dan doain juga supaya anak2 mudah diurus biar nggak terlalu ngerepotin nenek. jujur, lala kasian bgt tan ama nenek
Rabu, 28-09-2011
Tan, alhamdulillah ulfa dapet bantuan santunan dari Om Wandi yang kerja di Indosat sebesar Rp. 1.900.000,-. uang itu langsung dibayar ke sekolah ulfa untuk nglunasi biaya2nya yang nunggak. alhamdulillah tinggal 400rb lg tan. ya mudah2an aja semua bisa teratasi dengan lancar….. oh iya, alhamdulillah juga semua keluarga sehat kok tan, tante nggak perlu khawatir
Minggu, 02-10-2011
Tante, tolong sampaikan pada Allah agar Ia berkenan mengirimkan malaikat-Nya untuk menemaniku dalam berjuang di kehidupan ini. Aku lelah tan……… Aku lelah dalam kesendirian ini………
Rabu, 12/10/2011, 11.27
Pagi ini aku kacau sekali Tan. Sebelum berangkat kerja tadi, aku sempat memikirkan suatu hal. Sesuatu tentang aku, dan keluarga kita, terutama nenek. Kurasa saat ini nenek sudah terlalu tua untuk menanggung semua beban hidup yang dimilikinya. Sejak kepergianmu, setiap paginya nenek mempersiapkan kebutuhan Intan dan Azmi untuk sekolah. Belum lagi Rizky yang agak rewel. Meskipun aku membantunya, tapi tak bisa dipungkiri Tan, aku melihat gurat kelelahan itu di wajah tuanya. Aku kasihan padanya Tan. Bagaimana nanti kalau aku menemukan jodohku? Haruskah kutinggalkan ia sendirian untuk merawat semua anak-anakmu? Ah Tan, aku masih tak sanggup memikirkan hal itu. Rasanya aku ingin menangis…….
Kadang aku berpikir, masih sanggupkah ia bertahan? Sampai kapan keadaan ini akan berlangsung? Apakah lima, mungkin tujuh, atau minimal sepuluh sampai lima belas tahun lagi, nenek masih sanggup bertahan dengan keadaan ini dan masih bisa berada di sini untuk membantuku merawat anak-anakmu? Aku menyadari Tan, aku sangat menyadari kalau ia sudah terlalu tua untuk ini. Tapi aku belum bisa membantu sepenuhnya. Aku begitu menyayanginya Tan. Atau mungkin ini adalah cara Allah dalam menyayanginya??
Tan, dalam ketegaran hati ini, sebenarnya aku lemah Tan. Aku tak sekuat apa yang mereka bayangkan. Aku selalu ingin menangis setiap kali menyadari sebuah kenyataan ini. Membayangkan masa depan anak-anak tanpamu di sisi mereka, Membayangkan setiap tumbuh kembang mereka tanpa pengawasan dari keluarganya secara penuh, aku memikirkan semua itu Tan. Dan aku sungguh tak sanggup jika harus memikirkannya sendiri. Aku…….Aku membutuhkanmu Tan. Aku benar-benar merindukanmu. bantu aku dari sana Tan. Kirimkan kekuatanmu untukku. Untuk menghadapi setiap cobaan yang bergulir mengiringi langkahku dan langkah keluarga kita, terutama nenek. Aku hanya berharap nenek bisa selalu sehat dalam setiap pengabdiannya terhadap kami. Dadaku sesak bila harus memikirkan bagaimana waktu akan membawa keluarga kita keluar dari lingkar cobaan ini.
Dengan adanya cobaan ini, rasanya aku tidak berani memikirkan masa depanku sendiri Tan. Rasanya aku takut bila harus mencintai orang yang tidak mencintai keluarga kita. Karena aku menyadari bahwa keluarga kita membutuhkanku. Meskipun roda kehidupan telah membawa beberapa dari “mereka” pergi menjauh dan tak pernah ada kabarnya lagi, tapi aku akan berusaha untuk tetap berada di sini, di sisi nenek dan anak-anakmu. Aku merasa, kebahagiaanku adalah bila melihat keluarga kita bahagia, meskipun itu artinya harus mengorbankan kebahagiaanku.
Apakah aku salah dengan semua ini Tan? Tolong katakan tan, tolong katakan…….
Jum’at, 14/10/2011, 01.21
Tan, datanglah dalam mimpi Rizky, anakmu. Sebab tadi sebelum ia tidur, ia sempat memanggil-manggil namamu dalam kerinduannya yang terdalam. Datang jugalah dalam mimpiku ya tan. Aku, Rizky, kami berdua merindukanmu. Sangaaaaat merindukanmu……..
Rabu, 19-10-2011, 02.45
Tan, apa kabar? lama lala gak menyapa tante. tapi tenang aja, lala selalu menyebut nama tante dan kakek kok di setiap bilangan doa yg lala panjatin ke Allah. Tan, siang ini hati lala kembali bergemuruh. Sebuah kenyataan pahit hrs la dengar dari Mugi, Ulfa katanya merasa kurang perhatian dari org rumah. Trus dia mau sakit parah aja biar di perhatiin. Jujur, ini gak mudah tan untuk lala lalui. Dia sempet nulis note di FB nya:
“Setelah mamah pergi, dirumah cuma ada Bapak, Nenek, Uwa, Teh Sarah..
Ya.. Mereka semua yg udah ngasih perhatian ke gue & adek2 yg lain. Mereka yg ngurusin kita, banting tulang u/ngebiayain hidup kita.. Makasih ya, upah gatau mesti blg apa. Tp yg jelas makasih bgt, setelah kepergian mamah kalian jadi lebih perhatian ke kita
upah seneng hidup bareng kalian..”
la seneng banget dia udah ngerasa gak sendiri lagi setelah tante pergi, lala harap lala bisa selalu ada di samping mereka sampai kapanpun. Lala bener2 menyayangi mereka tan, sangat sayang. Bahkan lala banting tulang kerja sana sini untuk membantu mencukupi kebutuhan mereka. Inilah cara lala dalam menyayangi mereka, mudah2an lala bisa memberikan kasih sayang seperti apa yang mereka inginkan. Doakan lala ya tan. Bantu lala dengan doa tante dari Arsy-Nya sana. Tante,,,, lala, Ulfa, tiar, intan, azmi, rizky, dan kami semua di sini begitu merindukanmu : ‘ ) sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattt merindukanmu
02.06, Kamis, 3 Nov 2011
Tante, teriring salam penuh kerinduan aku haturkan dari sudut hati yang paling dalam. Tan, entah mengapa siang ini aku ingin sekali menangis. Sambil mendengar lagu “Tanpa Bintang”, aku merasa kaulah bintang yang kini sudah tak ada lagi dalam langit kehidupan kami. Aku dan anak2mu. Air mata ini sudah tak dapat terbendung lagi tan. Memikirkan bagaimana kehidupan kedepannya anak-anakmu. Mereka masih kecil-kecil untuk dapat menerima kenyataan kalau mereka sudah tidak memiliki ibu lagi. Sejak kepergianmu, aku merasa dalam sekejap saja mereka sudah menjadi anak piatu. Yang kapan saja ada yang mengajak dan memberi santunan, mereka ada. Sedih rasanya tan menerima kenyataan ini. Di saat anak2 yang lain bisa bercanda dan tertawa dengan orang tua mereka masing2, mereka hanya dapat memendam kerinduan mereka padamu dalam diam tan. Dalam tawa mereka, aku yakin tersirat sebuah kerinduan yang teramat sangat padamu. Aku yakin itu. Apalagi Rizky. Saat ia menangis, terkadang ia masih menyebut-nyebut namamu. Oh tan……. bagaimana semua ini harus aku ungkapkan? bagaimana aku harus menyikapi semua ujian ini?????
11.32, Rabu, 7 Nov 2011
Tante, aku begitu merindukanmu. Ingin rasanya aku menangis dalam pelukanmu. Hatiku kini tak menentu. Aku ingin mengungkapkan semua rasa padamu Tan. Tante, datanglah dalam mimpiku malam ini……………
11.44, Senin, 2 Januari 2012
Tan, jujur aku sangat bingung bagaimana caranya mengungkapkan kasih sayang ini pada anak2mu? tolong katakan padaku tan, bagaimana caranya? sudah sekuat tenaga aku coba mencurahkan kasih sayangku pada mereka, tapi tetap saja ulfa merasa ragu akan kasih sayang yg aku dan keluarga yg lain berikan pada mereka. Katakan tan, bagaimana caramu dulu memberikan kasih sayang pada anak2mu? Semua ini memang tidak mudah untukku jalani sendiri……
13.49, Senin, 2 Januari 2012
Tan, izinkan aku menangis di pangkuanmu. Izinkan aku bersandar di pelukmu. Aku ingin mengadukan semuanya padamu, semuanya Tan………….aku tidak punya siapa2 selain Allah tempatku mengadu. Aku sedih Tan dibilang seperti itu, aku sakit hati atas perkataannya padaku. Setelah apa yg aku lakukan untuk anak2mu, apakah aku memang malaikat berhati iblis??? Hanya Allah yg tahu Tan seberapa sayangnya aku pada anak2mu. Air mata ini tak henti2nya mengalir. Hatiku sesak Tan. Aku sedih………. :’(
11.32, 24 Januari 2012
Dua hari yang lalu UU pulang Tan setelah sekian lama ia meninggalkan anak-anak dan menetap di kampung. Kabar yg aku dapat, ia sedang melakukan pengobatan. Dan pagi tadi, ia harus pulang lagi ke kampung karena masih harus menjalani pengobatan. Tapi Tan, menurut penuturan UU tadi, sebelum ia hendak berangkat ke kampung, tiba-tiba Ulfa berkata seperti ini: “bapak harus balik lagi ya Pak. Jangan sampe ga pulang.” Entah mengapa UU merasa kata-kata Ulfa itu seperti pertanda kalau sesuatu akan terjadi pada UU. Jujur, aku pun jadi kepikiran hal itu Tan. Bagaimana jikalau UU sampai tidak ada umur. Bagaimana nasib anak-anak Tan? apakah mereka harus siap menerima kenyataan kalau mereka yang masih kecil-kecil itu dalam waktu yang singkat harus menjadi anak yatim piatu??? Ah Tan, aku jadi semakin merindukanmu…..
Kamis, 3 Februari 2012, 9.57
Tan, aku harap kau selalu berbahagia di sana. Bagaimanapun keadaan kami di sini, insya Allah semuanya akan tetap baik-baik saja. Aku bingung Tan harus kemana lagi mencari uang untuk bayar tunggakan-tunggakan Ulfa di sekolah. Aku sangat sedih melihat statusnya yang pusing memikirkan semua tunggakan2nya. Mau menasehatinya pun, rasanya ia masih seperti remaja2 lainnya yg masih labil dan blum bisa berpikir secara dewasa. Aku pun memaklumi hal itu. Ah tan, tolong bantu aku memikirkan semuanya. Tolong bantu aku katakan pada Allah agar ia mempermudah rejekiku dan rejeki anak-anakmu. Amiin……. Aku selalu merindukanmu Tan :’(
Selasa, 2 April 2012, 4.34
Tante, aku bingung harus kemana aku mencari teman diskusi. Aku bingung jika harus memikirkan sendiri perencanaan dana pendidikan buat Rizky. Aku butuh pendapat, aku butuh saran, aku butuh kamu Tan….
Selasa, 01 Mei 2012, 3.28 AM
Tante, ah rasanya lama sekali aku tidak berbincang denganmu. Maafkan aku Tan. Tapi doa untukmu dan kakek serta Jaenab selalu mengalir deras. Aku bingung. Aku mulai bingung dan bimbang. Aku mulai kehilangan arah. Aku ingin mengatakan semua ini padamu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Ada satu rahasia yang sampai saat ini aku sembunyikan pada keluarga kita Tan. Masalah benjolan pada leherku. Aku takut Tan. Aku takut sekali. Aku takut ini adalah sebuah penyakit yang berbahaya. Aku takut. Takut sekali. Tapi alhamdulillah sampai saat ini aku baik-baik saja Tan. Kau tak perlu cemas. Insya Allah aku bisa menghadapi semua ini. Sampai saat ini, alhamdulillah semuanya berjalan baik-baik saja. Aku harap ini hanya sebuah peringatan kecil Allah untukku. Tapi andai saja kau ada di dekatku Tan, aku pasti akan menceritakan semua ini padamu. Tan, aku takut sekali
( Aku takut tidak bisa membahagiakan Rizky. Aku takut jika harus meninggalkannya, aku takut…….
