• Home
  • About
  • Download Novel Mini
  • Surat ke Barzah
  • Kata Hati

Cerita Pelangi di Balik Senja

Karena Senja Begitu Indah

Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Kata Hati

28/09/2011

Aku tak mengerti dengan mimpi tadi malam. Rasanya masih hangat dalam pelupuk mata dengan apa yang kualami malam tadi. Rasanya seperti ada yang ingin disampaikan padaku, namun apa? Benarkan hal itu menjadi sebuah pertanda? Aku masih cemas dengan hal itu, dan semoga saja mimpi semlam hanya kembang tidur belaka……

Kamis, 29/09/2011

Jika masih harus membicarakan tentang kepergian tante, aku tidak pernah jemu untuk membahasnya. Sampai kapanpun kisah hidup tante dan segala tentangnya akan selalu membekas dalam memori batinku. Sampai saat ini pun, jika teringat tentang kenanganku bersamanya, air mataku selalu mengalir layaknya anak sungai. Aku bingung harus menjelaskan dari mana. Sejak tante tiada, kehidupanku berubah drastis. Dari segi waktu, status, financial, dan hampir semuanya berubah. Aku sungguh tak pernah mempermasalahkan hal itu. Tidak juga aku melakukan protes pada Tuhan karena telah memberikan kehidupan yang penuh cobaan untukku.

Jalan hidupku kini tak lagi seperti dulu. Jika dulu aku hanya memikirkan diriku sendiri saat aku menerima honor, kini aku harus lebih peka terhadap keadaan di rumah. Beli susu Rizky, diapersnya, belum lagi keperluan anak2 tante yg lain yang meskipun mereka bukanlah tanggung jawabku, tapi paling tidak aku masih punya hati untuk sekedar memberi mereka uang jajan. Waktu yang kupunya kini lebih sering kuhabiskan untuk “sesuatu” yang bisa dinilai dengan rupiah. Ya, bekerja, mengajar, dan membuat cerpen. Jika dikatakan lelah, memang iya. Tapi sungguh aku tak pernah mengeluhkan hal itu.

Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Kehidupan, selepas tante pergi. Berperan sebagai seorang “bunda” bagi Rizky, sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Saat tante pergi, hanya satu yang aku pikirkan: “Bagaimana caranya agar Rizky tidak pernah merasa kehilangan kasih sayang seorang ibu.” Maka itulah aku memutuskan untuk membiasakan Rizky memanggilku dengan sebutan “Bunda” dan menyayanginya layaknya anakku sendiri.

Entah apa yang kupikirkan kala itu. Apakah hal itu merupakan keputusan yang salah atau tidak, aku tidak pernah memikirkan hal itu jauh sebelumnya. Aku hanya melakukan suatu hal menurut hati nuraniku. Entah bagaimana hari esok? Itu tergantung nanti. Tergantung usahaku dan takdir Allah.

Kamis, 29/09/2011, 23.25

malam kembali membawa langkahku pulang dengan segenggam asa dan harapan yang tertanam rapi dalam kalbuku. Sepanjang perjalanan pulang, sambil ditemani semilir angin yang membelai lembut wajahku, aku kembali merasakan suatu perasaan yang tak pernah bisa aku ungkapkan secara nyata. Aku masih bingung apakah aku bahagia, sedih, atau justru biasa-biasa saja dalam menapaki sejenak episode perjalanan hidupku kali ini. Aku benar-benar telah mati rasa. Dalam keheningan sepi, terkadang ada suatu hal yang terpikirkan olehku namun lagi-lagi aku tak pernah bisa menjelaskan hal itu. Begitu juga saat keramaian tengah menyelimuti hariku. Aku masih tetap merasa sepi, dan sendiri. Aku masih tetap bingung dengan apa yang kupikirkan.

Aku kembali pada kenyataan hidup. Pada sebuah garis takdir yang telah Allah gariskan untukku. Terkadang aku bertanya dalam hati, haruskah aku menjalani hidupku seperti ini dengan cara yang sama untuk selamanya?? Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani rutinitas yang sama setiap harinya. Bekerja, mengajar, dan kuliah. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu untuk menanti sebuah jalan hidup yang baru. Sebuah kelulusan yang sudah sejak lama aku idam-idamkan. Hal itu jelas menjadi sebuah harapan besar dalam hidupku. Paling tidak aku masih punya sedikit asa untuk dapat merasakan pengalaman baru dalam sepenggal episode hidupku.

Namun kembali aku dihantui oleh rasa bimbang dan galau. Cemas yang tak beralasan membuat aku takut untuk menghadapi hari esok. Saat ini mungkin aku masih bisa bernafas dengan waktu dan udara yang sama. namun bagaimana dengan esok hari? Bagaimana dengan nasibku enam bulan ke depan? Apakah masih sama seperti saat ini, selangkah lebih majukah, atau justru mundur ke belakang layaknya sebuah mobil yang dilepas di turunan paling terjal? Ah kuharap semuanya akan tetap baik-baik saja.

Mengkhawatirkan kehidupan di masa depan, telah membuatku menjadi pribadi yang tak ingin membuang banyak waktu yang sia-sia di masa kini. Aku ingin lebih berguna, minimal untukku dan keluargaku. Sebuah kenyataan yang mau tidak mau harus aku hadapi dan terima adalah saat Allah mempergunakan hak prerogatifNya untuk mengambil tante dari kehidupan kami. kelima anak tante adalah sebuah amanah untukku dan keluarga. Mereka adalah separuh tanggung jawabku. Mengapa demikian? Pertama, karena aku tak ingin membebankan kenyatan ini sepenuhnya pada nenek. Kedua, karena aku tak mungkin mengandalkan keluarga dan kerabat yang lain sementara hanya untuk sekedar menanyakan keadaan anak2 tante saja mereka  “seolah” tidak pernah sempat. ketiga, karena mereka tumbuh dan besar secara bersamaan di hadapanku. Meskipun tak pernah terucap dari bibir tante, namun aku merasa bahwa mereka adalah sebuah amanah besar untukku.

Jika ditanya mengapa? Aku hanya bisa menjawab: “Karena aku tak punya pilihan lain selain merasa harus membantu nenek mengurus kelima anak Tante.” Aku tak pernah punya pikiran apapun saat memutuskan untuk mendedikasikan hidupku saat ini untuk mereka. karena yang aku tahu, aku hanya ingin membantu mereka. Sebab kalau bukan aku dan keluarga yang ada di sini, siapa lagi? Hanya kami yang mereka punya. Dan saat ini, itulah jawaban yang bisa aku berikan pada sebuah hati yang terus mempertanyakan mengapa demikian? Ya, itu adalah hatiku sendiri.

Jika ditanya resah, ya, mungkin aku agak sedikit galau dan resah. Mengapa? Lagi-lagi aku mengkhawatirkan masa depanku. Bagaimana jadinya masa depanku dengan kelima anak tante yang menjadi sebuah amanah untukku? Jika suatu saat ada seseorang yang berusaha dekat denganku, mau tidak mau aku harus menjelaskan hal ini padanya. Entah ia bisa menerimanya atau tidak, namun yang pasti aku tidak akan menutupi apapun darinya. Kalaupun memang tak ada yang berkenan padaku karena hal ini, aku hanya dapat menyerahkan yang terbaik untukku pada Sang Khalik.

Namun yang pasti, saat kenyataan kembali menyadarkan aku pada sebuah realita. Saat aku harus kembali menyaksikan Rizky tertawa lepas menyambut kepulanganku ke rumah, rasanya tak ada yang lebih berharga selain melihatnya tumbuh besar dalam penjagaanku. Saat kurasa kesepian ini masih belum menemukan titik terangnya, maka yang bisa aku katakan saat ini, “Mungkin Rizky lah masa depanku.” Ia adalah salah satu investasi terbesar untukku. Jujur, aku masih belum bisa menempatkan secara tepat posisi Rizky dalam hidupku. namun untuk saat ini, aku hanya ingin berbagi kasih sayang, cinta, ketulusan, dan segala yang terbaik yang bisa aku lakukan untuknya. Meskipun dengan hal itu sama saja mempertaruhkan impianku. Ya, impian membangun sebuah rumah tangga bersama orang terkasih dan memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Lalu bagaimana dengan Rizky? Ah…..entahlah….

Aku masih ingin melanjutkan hidupku. Mencari pekerjaan yang lebih baik. Membuang semua kenangan pahit dalam hidupku, membuat keluargaku bangga, mewujudkan impian-impianku, dan masih banyak lagi yang ingin aku lakukan. Ingin rasanya aku menceritakan apa yang kurasakan selama ini. Aku memang memiliki banyak teman, tapi aku tak memiliki seseorang yang bisa aku ajak untuk berbagi dan bertukar pikiran dan pendapat. kalaupun ada, paling hanya dengan Ulfa, adik sepupuku. Itupun hanya sekedar berbagi dan tak lebih. Maka dari itu aku menjadi lebih tertutup dan memilih untuk menyimpan semuanya dalam diam. Aku hanya bisa menceritakan semua yang kurasa ini pada hatiku. pada ponsel, atau pada laptop.

Biarlah kutelan semua rasa dan asa bersama dengan semua harap yang pernah kupunya. Jika ditanya apa harapanku, aku pun juga masih memikirkannya. Tapi yang pasti, kuyakin kehidupanku akan jauh lebih baik, suatu saat nanti…….

Senin, 03 Okt 2011,24.00

Menghabiskan waktu malam bersama bayangan yang kelam. samar-samar kutemui ia yang tlah lama tak kujumpai dalam setiap jejak langkahnya yang selalu kusimpan dalam diam. Membaca kembali perbincangan hangat semasa dulu membuatku jadi semakin tak mengerti. Membuat sebuah tanda tanya besar dalam hati. Menghapus segala angan dalam diri. Menorehkan segores luka yang tak mampu hilang termakan oleh jarak dan waktu. Aku masih menghitung masa. Aku masih menyimpan semuanya dalam jiwa yang teduh. Tak banyak yang ingin kuurai dalam makna kesendirian ini. Hanya ada sebuah senyum dan gelak tawa yang mengiringi saat harus menyaksikan episode lalu terputar kembali dalam memori batinku. Segala tentang hal itu kembali mencair dalam dinginnya angin malam yang membelai kalbu. Akankah semuanya akan terjawab dengan kebahagiaan, atau justru akhirnya hanya akan ada sebuah air mata penyesalan dalam setiap waktu dan asa yang terbuang sia-sia. Syukur jika hal itu menemukan sebuah jawaban. Namun jika tidak, maka waktu bertahun-tahun silam yang telah berlalu itu hanya akan menjadi sebuah kenangan belaka yang hanya dapat kurasakan dengan perasaan yang tercabik-cabik. Semoga Tuhan mendengarkan kata hatiku………

Rabu, 5 Okt 2011, 15.39

Sore ini aku kembali mencari sesuatu yang hilang dalam diriku. Sesuatu yang rasanya tak pernah aku miliki, namun entah mengapa aku merasa ada yang hilang dalam hidupku saat ia tak ada. Entahlah. Aku tak mencarinya kemana atau dimana seperti apa yang dipaparkan Ayu Ting Ting dalam lagunya, aku hanya cukup mencarinya didasar hati. Asal sudah kutemukan ia di sana, rasanya sudah cukup, setelah itu membiarkannya tetap bersemayam di sana. Ingin rasanya kusapa ia dalam kerendahan hati, kembali mengajaknya berbincang meski dalam waktu yang sangat singkat. Namun setiap kali ingin kulakukan itu, seolah ada sebuah dorongan yang sangat kuat yang menyuruhku untuk tetap diam dan diam. Bukan karena aku telah meminggirkan ia dalam nuraniku, bukan pula karena aku telah lupa pada ia dan kebaikannya, tapi karena memang belum saatnya aku bicara. Suatu saat, jika semuanya sudah sesuai dengan porsinya, waktu jualah yang akan berbicara. Angin akan menghembuskan sebuah rasa dalam asa yang saat ini dilema. Ya, suatu saat itu pasti akan tiba. Dan untuk saat ini, izinkanlah aku untuk tetap diam dan berbincang dengan hatiku yang terdalam. Aku yakin semuanya akan tetap baik-baik saja.

Jum’at, 7/9/2011, 11.25

Siang ini ngerasa dag dig dug banget. Panas dingin dan gak menentu. Kacau. Hari ini adalah hari pertama pendaftaran TA sampe nanti tgl 11 Oktober. Ya Allah, udah sebentar lagi. Rasanya baru kemaren masuk kampus. Pengennya sih buru2 lulus, tapi giliran dihadapkan dg hal yg beginian aja udah panas dingin. duh pusing nih. Outline cerber Femina aja blum kelar, paling gak masih hrs ngelarin 20 halaman lagi. mudah2an bisa kekejar seblum tgl 17 oktober nanti. Ya Rabb, mudahkanlah semuanya. Amiin

Jum’at, 21/10/2011, 02.56

Semalam, nenek berucap padaku, bagaimana kalau sampai ia tidak ada umur, sedangkan anak2 tante masih pada kecil2 dan butuh banyak biaya. Mama pasti sibuk dagang di pasar, sedangkan aku, kata nenek kalau suatu saat menikah, pasti akan ikut suami. lalu bagaimana dengan anak2? ah, entah apa yg kurasakan saat mendengar nenek berucap seperti itu. segala rasa berkecamuk dalam diri. Bagaimana dengan kehidupanku dan keluarga selanjutnya??? Ya Rabb, aku ingin setegar Kirana, aku ingin sekuat ia, semampu ia dalam menghidupi kelima keponakannya. Aku ingin seperti dia Rabb. Tolong beri aku kemampuan untuk dapat mencukupi kebutuhan keluargaku. Sebentar lagi Tiara akan masuk SLTP dan Azmi masuk SD. Dan beberapa tahun setelahnya Intan masuk SLTP dan Rizky masuk SD. Oh Ya Rabb, butuh berapa banyak lagi biaya agar dapat memenuhi semua kebutuhan pendidikan mereka??? Tolong beri aku kemampuan agar dapat membantu nenek menghidupi kelima sepupu2ku. Meskipun bayang2 “menikah” untuk saat ini menjauh dari anganku. aku hanya ingin mereka tidak tersia-siakan setelah kepergian tante, aku mohon Ya Rabb….

28 okt 2011, 14.34

saat terpaku dalam sebuah lembah sepi yang tak berkesudahan, saat mata kaki terjerat sebuah rantai ombak yang enggan menepi, saat hati rasanya mulai enggan untuk memiliki rasa, aku masih menyimpan sebuah tanya yang membuat galau jiwa dan raga. aku masih belum mengerti apa yang aku cari. aku masih belum paham apa yang ingin aku dapatkan. sejak bertemu senja kala itu, aku seolah sudah lupa dengan kisah hidup dan kehidupanku yang dulu. aku hanya ingin melihat senja sekali lagi. benar-benar melihatnya tanpa ada penghalang antara aku dan lembayungnya. aku ingin bersama senja saat ini. menemani jingganya yang semakin meredup, dalam makna sebuah kata yang sulit terungkap. Ya, aku hanya inginkan senja. Karena hanya senja, yang dapat membuatku merasa teduh dan nyaman…….

01.53, Kamis, 3 Nov 2011

Saat pikiran ini harus terbagi ke beberapa urusan. Memikirkan Azmi yang belum bisa baca dan tulis, memikirkan pendidikan Rizky, kehidupan kelima sepupuku, kuliah Hari, belum lagi urusan TA, kerjaan, ngajar, dan urusan rumah. Allahu Akbar, Ya Rabb….mudahkanlah semuanya, amiin…….

23.53, Sabtu, 26 Nov 2011

Di hampir penghujung malam ini, aq masih sibuk memikirkan tentang TA dan segala yang terjadi di rumah ini. Kala harus bergelut dengan segunung materi dan paper, ada saja kendalanya. Rizky yang selalu merengek minta disetelkan Cubeeznya, Cottonnya, dan segala animasi yang ia sukai. Ada saja tingkahnya untuk membuatku lepas dari laptop. Akhirnya aku akali dengan membuka setengah windows video animasi untuknya, dan setengahnya lagi untuk konsep TA ku. haaahhh……..begini ya rasanya jadi orangtua, apalagi jika single parent. Semua2nya harus bisa dikerjakan sendiri. Saat ingin fokus ke laptop, si dede ada saja tingkahnya yang membuatku lepas dari laptop, walauu hanya untuk menemaninya menonton tv, atau mengawasinya bermain. Setelah dia lengah, baru aku kembali lagi ke laptop. Tapi ya begitu seterusnya selama beberapa waktu, hingga akhirnya yang ada konsep TA ku kembali tertunda dan lebih memilih menutupnya dan bercengkerama bersama Rizky. ahhh…..semoga saja tidak ada kendala yang berarti saat harus kembali bergelut dengan TA. Semoga Allah mempermudah langkahku untuk lulus dan sukses. Amiin….

22.45, Minggu, 27 Nov 2011

Kucoba untuk mengerti semuanya, walau terkadang pikiran dan hati tak seiring sejalan. Meski kakiku terus melangkah, bukan berarti karena aku tahu ke mana harus kumelangkah, namun karena aku hanya tidak ingin selalu ada di jalan yang sama. Aku masih diliputi kebimbangan. Kecemasan yang tak berujung, tak jarang membuatku galau. Walau sejatinya aku hanya inginkan ketenangan, namun nyatanya itu bukanlah hal yang mudah. Kini aku semakin mengerti dengan segala yang telah Allah ujikan padaku. Kelelahan ini bukanlah tanpa arti, perjuangan ini bukanlah tanpa hasil. Aku tahu Allah pasti akan berikan yang terbaik untukku. Di setiap sela waktu aku selalu berusaha untuk merenungi dan memahami semuanya. Aku harap aku bisa sedewasa Kirana dalam menapaki kehidupan ini. Meski terkadang hidup selalu saja menertawakanku atas ketidak berdayaan dan ketidak ikhlasanku menerima kenyataan ini, tapi aku selalu punya ruang untuk tersenyum dan mencoba memahami semua ini dari sudut pandang yang berbeda. Rabb, mohon kuatkanlah langkahku dalam menapaki kehidupan ini. Amiin

Rabu, 7 Des 2011, 11.19 AM

Izinkan aku menertawai kebahagiaanku sendiri. Saat seseorang yang kuanggap lebih dari seorang sahabat di sana memberitahuku tentang suatu hal, jujur, pada saat itulah kebahagiaanku semakin bertambah. Aku senang, karena akhirnya senja itu telah kembali. Aku yakin pasti ada sesuatu yg direncanakan olehnya. Apapun itu, aku tidak akan mau tahu lagi. Yang penting, asal melihat senja itu tersenyum menampakkan dirinya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku tetap bertahan dalam diamku untuk tidak menyapa indah warnanya. Tidak. Walaupun aku tahu kini ia sudah kembali, tapi aku tidak akan kembali lagi untuk menemuinya. Bukan karena aku sudah lelah untuk mengharapkannya, tapi karena aku tidak ingin mengulang sakit terdahulu lebih dalam lagi. Seperti ini kurasa adalah lebih baik. Menatap senja itu dari kejauhan, mendoakannya penuh pengharapan, agar suatu saat ia akan menemukan kebahagiaannya yang sejati. Aku menghilangpun, bukan karena awalnya ia menghilang, tapi ada suatu hal yang lebih dari sekedar itu. Dan aku harap semuanya akan tetap baik-baik saja. Wahai senja, selamat datang kembali dalam dunia ‘ini’…………

Jum’at, 16 Des 2011, 03.34 PM

Hanya kalimat ini yg dapat kuungkapkan: “Tak sehangat yang dulu….”

Jum’at, 16 Dese 2011, 04.11 PM

Tadi pagi, dalam sebuah angkot, karena aku hanya sendiri yg berstatus penumpang, waktu berhasil membuatku kembali berpikir. Yang pada saat itu kupikirkan adalah, aku hanya ingin dapatkan pekerjaan yang lebih baikdan yang penghasilannya besar. Yang aku pikirkan kala itu, bukan karena aku serakah atau cinta pada dunia, tapi karena memang itulah satu-satunya jalan agar kehidupanku dan keluargaku bisa semakin membaik. Dengan penghasilan yg mencukupi, aku bs membantu anak-anak Tante untuk tetap bersekolah dan mendapatkan hak yang memang seharusnya mereka dapatkan. Dengan penghasilan yang mencukupi, aku bisa membeli segala keperluanku tanpa mengharap dari orang lain, dengan penghasilan yang mencukupi, aku bisa bersedekah pd org yg membutuhkan, aku hanya ingin lebih bermanfaat dg segala apa yg kupunya. Dan dalam pengandaian itu, aku kembali tersadar kalau semua itu membutuhkan proses. Aku kembali teringat pada Rizky, bocah mungilku. Jika dibandingkan dengan Dija, rasanya beda sekali kondisi Rizky dengan Dija. Meskipun tanpa seorang ibu di sisinya, namun Dija memiliki ayah dan keluarga yang selalu ada dan dapat mencukupi kebutuhannya. Sedangkan Rizky? Ah, rasanya tidak bijak bila harus membandingkan keadaan Rizky dengan Dija. Aku rasa, Rizky pun juga sudah cukup bahagia dengan keadaannnya saat ini. Toh bocah mungilku itu belum bisa mengukur taraf kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun aku kembali tersadar, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah pada saat kita bisa menikmati apa yang sudah kita dapat selama ini. Dan Rizky adalah buktinya. Meski tanpa seorang ibu di sisinya, meski keadaan keluarganya begitu amat sangat kekurangan, namun ia tetap bisa tersenyum dan bergembira bisa hidup bersamaku dan keluargaku. Bahkan mungkin satu hal yang saat ini ia inginkan hanyalah dapat selalu bersamaku untuk dapat selalu menjaganya. Aku bisa merasakan, bila aku di dekatnya, ia begitu bahagia. Jadi, tampaknya tak ada sela untuknya memikirkan apakah ia bahagia atau tidak, karena yang ia tahu, ia cukup bahagia hidup bersama denganku. Dan tadi pagi pun, aku sempat berpikir, baik cobaan maupun kenikmatan setiap orang itu berbeda-beda. Dan hanya Allah lah yang mengetahui seberapa besar kapasitas kemampuan kita dalam menghadapi cobaan dan kenikmatan itu. Apa yang aku rasakan saat ini merupakan takdir (hak prerogatif)  yang telah Allah gariskan untukku dan keluarga. Kita sebagai manusia hanya cukup menerima takdir itu, menikmatinya, dan mensyukurinya. Dan lagi-lagi, memilih untuk menikmatinya merupakan sebuah proses panjang yang tidak mudah untuk dilaksanakan kecuali dengan memilih ikhlas sebagai landasannya. Namun sebagai manusia, kita diwajibkan untuk berikhtiar mencari yang terbaik dalam pencapaian hidup. Karena ikhtiar merupakan proses untuk menuju ke arah yang lebih baik. Takdir memang tidak bisa dirubah, namun usaha/ikhtiar dapat merubah nasib. Bukankah Allah pernah berkata, bahwa Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mau merubah nasibnya sendiri. Dan di sinilah hal itu harus kita terapkan. Including me :) (to be continued…..)

sabtu, 7 Januari2012, 7.34

Sulit rasanya bagiku utk kembali lg ke sana. Terlalu banyak kenangan yg awalnya manis, malah justru berakhir dg kesedihan dan kepedihan. Pahit semuanya kurasa. Hanya ada dua alasan mengapa aq pergi dari ruang itu. Namun entah mengapa aq tak memiliki alasan satupun utk kembali mengulang semuanya dari awal. Begitu bnyak pertimbangan yg membuatku enggan utk kembali. Salah satunya adalah, aq tdk mau merasa tersakiti kmbli lbh dlm lg. Seperti ini tampaknya jauh lbh baik. Perlahan akan kupersilahkan byg2 itu pergi meninggalkan ruang jiwaku. Kupendam dlm2 hrp itu agar semuanya menjadi jelas. Aq menyadari, aq memang bkn siapa2, bhkn aq jg tdk memiliki jaminan apa2 utk menciptakan kbhagiaan. Maka dari itu, izinkanlah aq pamit dr semua kenyataan ini. Dr semua kenangan manis dan pahit yg brcampur mjd luka dlm hatiku. Hujan telah mjmput asaku utk trus memaksaku melangkah menyusuri lorong khdpn ini dg penuh kepastian, dan meninggalkan masa lalu yg kelabu

Selasa, 03 April 2012, 14.17

Ada tawaran lagi. Kali ini pun dari orang yang sama dengan beberapa waktu silam. Dan masih dengan keadaan hati yang tak menentu, aku belum menjawab iya atau tidak, siap atau belum siap. Semuanya masih kelabu, semuanya masih samar-samar, semuanya masih tanda tanya. Selalu ada keraguan yang menyeruak saat ingin melangkah dan berkata ‘siap’. Namun raguku saat ini bukan karena suatu hal yang dulu pun sempat membuatku ragu sama seperti saat ini, karena hal itu sudah sepenuhnya kuserahkan pada Allah dan setulus-tulusnya hati sudah kurelakan dan kuikhlaskan, tapi kali ini ragu yang lain. Ragu yang mengatakan apakah aku bisa memenuhi kriteria? Belakangan ini, aku sadari kalau aku sudah jauh dari namanya sempurna. Bahkan akhir-akhir ini aku sudah jarang tampil sebagai sosok seorang muslimah sejati. Sampai akhirnya datang tawaran itu, dan membuatku bertanya? Sebenarnya aku harus mencari orang yg seperti apa??? Aku harus menerima orang yang seperti apa??? Yang visi dan misi hidupnya tidak bertolak belakang denganku? Atau……. ah, aku jadi bingung dibuatnya. Ya Allah, sebenarnya apa yang dimaksud dengan JODOH itu??? Aku harus menikah dengan orang yang seperti apa? Yang bisa sejalan dengan visi, misi, dan pemikiranku????? Tolong beri aku petunjuk Ya Rabb…………… :’((

Selasa, 01 Mei 2012, 03.23 AM

Masih dengan kasus yang sama. Aku masih enggan berkomentar. Pun saat harus memutuskan, aku masih belum tahu keputusan apa yang harus kuberikan. Aku bingung. Hati ini sepi. Hati ini hampa. Hati ini……….. ah, sudah membeku sejak lama.

Jum’at, 04 Mei 2012, 4.15 AM

Tadi pagi mampir lagi ke puskesmas. Lag-lagi memeriksakan benjolan yang udah lebih dari dua pekan ini bersemayam di leher sebelah kiriku. Memang gak ada rasa dan keluhan apa2 selama ini, tapi agak takut juga kalo benjolan ini nggak hilang-hilang. Alhasil, dokter puskesmas bilang kalo aku harus dirujuk ke RS. Pasar Rebo untuk pemeriksaan lebih lanjut. Semoga nggak ada apa-apa. Aamiin………

Kamis, 24 Mei 2012, 2.02 AM

Setelah hari itu, kupikir akan ada kemajuan dari hubungan ini. Ternyata sama saja. Kau masih meminggirkan aku, atau mungkin malah membuangku ke tempat sampah. Kurasa ada baiknya kau tak perlu hadir lagi dalam hidupku kemarin. Kemajuan ini hanya kesemuan belaka. Aku bingung bagaimana aku harus bertindak. Aku tak tahu apa yang harus aku perjuangkan. Hidupku semakin tak jelas saja. Satu per satu teman-temanku menemukan tambatan hidupnya. Mereka sudah berlayar menemukan dermaga cinta-Nya. Sementara aku? masih bergelut dengan sebuah labirin rasa yang semakin tak kumengerti akhirnya. Masih sibuk dengan segala aktivitas ‘keibuanku’ sambil perlahan membangun kembali harapan masa depan yang sempat koyak, namun sesekali susul menyusul dengan keterbatasan hati untuk tetap mengharapkanmu. Aku bingung. Aku sedih. Aku tak tahu siapa engkau kini yang dulu kukenal sebagai sahabatku. Aku tak menemukan kata ‘sahabat’ lagi dalam dirimu. Aku rindu ‘ia’. Aku rindu jodohku yang entah siapa. Aku juga ingin menikah laiknya mereka membangun rumah tangga. Aku juga ingin……………….. :’((

Like this:

Suka
Be the first to like this page.

  • Search

  • Latest Post

    • Novel Mini: Ketika Cinta Harus Bersabar
    • Dekap Aku di Senja Nanti
  • Komentar Temen

    ndutyke on About
    wahyu nurudin on Senyum Anti Badai Katrina dan …
    nurlailazahra on Senyum Anti Badai Katrina dan …
    Dhenok Habibie on Senyum Anti Badai Katrina dan …
    nurlailazahra on Senyum Anti Badai Katrina dan …
    Dhenok Habibie on Senyum Anti Badai Katrina dan …
    nandini on About
    secepatkurakura on Senyum Anti Badai Katrina dan …
    tigaputri on About
    roy d'densus on Aku Ingin Sendiri
  • Kumpulan Cerita Sang Pelangi

    "Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya" (Ali bin Abi Thalib)

  • Kategori

    • Kata Hati (12)
    • Novel Mini (3)
    • Puisi (6)
  • Meta

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com
  • Blog Stats

    • 5,705 hits
  • Blog Bagus

    • Cahaya Bunga Malam
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Arsip

  • SEGGER

  • SEGGER

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com